Tidak Mau Kalah

Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. (2 Timotius 2:22)

Bacaan Alkitab Setahun:
Yakobus 1-5


Karena ngeri membayangkan kecelakaan, belakangan ini saya biasa mengemudi dengan lambat. Kendaraan di belakang saya jadi sering mengklakson tanda tak sabar. Sekian tahun silam, sayalah yang tidak sabaran. Saya sulit mengalah terhadap orang lain, terutama terhadap pengemudi yang memotong jalan saya.

Kata “nafsu” antara lain berarti keinginan yang tidak terkontrol. Sifat ini terutama melekat pada anak muda, namun bisa saja terbawa sampai seseorang tua. Salah satu contohnya adalah kecenderungan sulit mengalah tadi. Dalam menghadapi pengajar sesat, Paulus mengingatkan Timotius, yang memang masih muda, akan hal itu. Demi mempertahankan kebenaran, tentu wajar bila ada kalanya Timotius ingin meluruskan pandangan salah tersebut sehingga terpancing untuk berdebat. Namun, Rasul Paulus menyebut perdebatan itu sebagai soal yang dicari-cari dan yang tidak pantas dipertengkarkan (ay. 23). Timotius pun diminta untuk menghadapi mereka dengan keadilan, kesetiaan, dan kasih. Seperti Kristus dengan sabar membimbing murid-murid-Nya yang susah mengerti ajaran-Nya (bandingkan Matius 16:9), Timotius diminta untuk memberikan tuntunan dengan lembut (ay. 25).

Apakah Anda termasuk orang yang pantang menyerah dalam perdebatan? Anda sering bersitegang mempertahankan prinsip yang Anda pegang teguh? Inilah saatnya meneladani Kristus yang panjang sabar. Marilah memberi kesempatan kepada Tuhan untuk bekerja, agar orang yang suka melawan sekalipun dapat dipimpin untuk mengenal kebenaran (ay. 25).

NYATAKAN KEBENARAN DENGAN KASIH DAN KESETIAAN,
BUKAN DENGAN KEMAMPUAN UNTUK BERDEBAT

Jangan Lengah

Sadarlah dan berjagajagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Petrus 5:8)

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Petrus 3-5


Bruce Lee, aktor laga terkenal dari Hong Kong era 1960-1970-an, pernah berkata demikian, ”Jangan pernah memalingkan matamu dari lawan, bahkan pada saat kamu dalam posisi menunduk!” Saat bertarung, lawan adalah fokus sasaran kita. Sekali saja kita lengah, ia akan dapat menjatuhkan kita dengan kekuatan yang mungkin tak pernah kita perkirakan. Sekalipun kita terpaksa harus menundukkan kepala, seperti kata Lee, pandangan kita harus tetap terarah pada lawan.

Petrus juga mengingatkan jemaat agar sadar dan berjaga-jaga akan serangan Iblis. Apakah ini berarti kehidupan oang Kristen jadi serba tegang dan was-was kalau-kalau mendadak entah dari mana lawan kita menerkam? Syukurlah, tidak begitu. Fokus peringatan ini bukanlah kecemasan dalam menghadapi serangan musuh, melainkan pentingnya berserah pada Tuhan dan mengandalkan anugerah-Nya. Dalam pemeliharaan-Nya, kita mendapatkan kekuatan dan senjata untuk menghadapi tipu muslihat lawan.

Catatan kecil namun menarik dari Petrus adalah: “semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (ay. 9). Dengan kata lain, kita tidak perlu berjuang seorang diri. Kita memiliki komunitas saudara seiman yang dapat mendukung kita: dengan saling mendoakan, dengan saling mengingatkan untuk tetap berpegang teguh dalam iman, dengan saling menghibur dan menguatkan. Dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah serta dalam persekutuan yang erat dengan saudara-saudara seiman, kita dikuatkan agar tetap teguh dan tidak goyah.

PENYERAHAN DIRI KEPADA TUHAN DAN PERSEKUTUAN DENGAN
SAUDARA SEIMAN MEMPERKUAT KITA DALAM MENGHADAPI PENCOBAAN

Ketaatan Yusuf

Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Matius 1:24)

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes 4-5


Jika menuruti keinginan hatinya, Yusuf bisa saja pergi meninggalkan Maria, tunangannya yang sedang mengandung bukan karena berhubungan dengannya. Ia bisa punya banyak alasan untuk menceraikan Maria; orang tak akan menyalahkan keputusannya. Tetapi, ia tidak melakukannya. Ia tidak mengambil pilihan itu. Yusuf memilih untuk menaati perintah Allah, agar ia memperistri Maria selamanya. Ia percaya akan kata-kata malaikat Tuhan dalam mimpinya malam itu.

Sebuah keputusan yang jarang dan mungkin belum pernah diambil oleh seorang pria: mengetahui tunangannya hamil bukan karena perbuatannya dan tetap mempertahankan hubungan tersebut. Yusuf berani mengambil keputusan itu dan bersedia menanggung segala risiko yang pasti tidak mudah. Ia harus bertahan menghadapi gunjingan orang atas kondisi Maria yang hamil sebelum mereka menikah. Begitu menikah, ia sudah harus repot menjaga Maria dan mempersiapkan kelahiran bayinya.

Mengucap Syukur

Oleh: Agung
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)
Apakah saudara pernah belajar matematika? Jawabannya pasti pernah. Tetapi, bagaimana dengan matematika spiritual? Pasti belum pernah! Nah, sebelum masuk lebih jauh tentang hal tersebut, mari kita berandai-andai dahulu. Apa yang saudara lakukan bila menerima undian uang sebesar satu miliar. Apakah saudara akan menghabiskannya seketika itu juga, atau menyimpan, atau malah menginvestasikannya? Jawaban-jawaban itu tidak ada yang salah. Namun, apa yang terjadi jika ternyata seorang tukang becak yang dapat undian itu... pernah dengarkah saudara? Waktu dia mengambil uang itu dan melihatnya, malahan dia pingsan dan meninggal seketika itu juga. Itu suatu kejadian lucu dan tidak masuk akal! Setelah membaca ilustrasi diatas kita tahu bahwa ternyata kita tidak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi terhadap orang yang mendapat hadiah, karena responnya yang berbeda-beda.

Ya... itulah respon. Respon orang-orang acap kali berbeda-beda karena segala sesuatunya tergantung pada apa yang menjadi latar belakang orang tersebut. Jika orang kaya mendapat hadiah uang seratus ribu mungkin tidak seberapa senang bila dibandingkan orang miskin yang mendapat hadiah tersebut. Tapi, bisa jadi jika orang kaya mendapatkan cokelat dari pacarnya, itu malah jauh lebih menyenangkan dibandingkan mendapatkan uang seratus ribu. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Padahal nilai nominal coklat tidak sebesar uang seratus ribu, bukan? Jadi banyak sedikitnya hadiah bisa dikatakan menyenangkan, bukan karena pemberian nominalnya yang banyak. Tetapi tergantung siapa yang memberi dan untuk apa pemberian itu. Hal inilah yang saya maksud matematik spiritual. Apa sebutan yang paling cocok untuk menggambarkan hal tersebut saya tidak tahu pasti. Namun, yang penting saudara tahu maksudnya. Dari gambaran tersebut diatas kita bisa mengambil suatu perenungan tentang kehidupan ini, baik hubungan kita dengan sesama maupun dengan Tuhan.
Pemberian manusia walaupun sedikit nominalnya tapi jika diberikan dengan hati yang tulus dan ikhlas tanpa menuntut balasan pastilah akan menjadi bermakna. Biarpun dalam proses pemberian itu kadang kita disalahartikan. Tuhan sudah memberi contoh untuk memberi tanpa menuntut balasan, mengasihi tanpa meminta imbalan, dan masih banyak teladan Tuhan yang lain yang bisa kita. Kita sebagai ciptaanya tidak semestinya menuntut sang pencipta ini dan itu, (sebaiknya Tuhan memberi ini, sebaiknya Tuhan memberi itu, dst.)
Nikmatilah pemberian Tuhan yang ada dengan ucapan syukur, karena Tuhan lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan kita saat ini. Mari minta kepada Tuhan supaya kita dapat memberi dengan hati yang tulus, dan mengucap syukur untuk apa yang diberikan Tuhan kepada kita hari lepas hari, karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Amin.



Mengalami Transformasi Hidup

Oleh: Samuel T. Gunawan
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna“ (Roma 12:2)
PROLOG

Beberapa tahun terakhir ini kata “transformasi” menjadi trend dan sedang “naik daun”, dibicarakan di kalangan orang Kristen. Di Indonesia transformasi merupakan suatu hal yang sangat diharapkan terjadi. Saat ini, kita mengharapkan suatu perubahan (transformasi) ke arah yang lebih baik terjadi atas keluarga, lingkungan, kota dan bangsa kita. Gereja adalah alat atau agen transformasinya Allah, dan Allah sendirilah “Sang Transformator” itu. Kita dapat mengharapkan bahwa gereja akan menjadi suatu eksponen masyarakat yang berpengaruh bagi kota dan bangsanya. Gereja benar-benar akan menjadi garam dunia, terang dunia, dan sebuah kota di atas bukit (Matius 5:13,14).

Orang Kristen perlu menyadari bahwa melalui diri mereka Allah inginkan terjadi perubahan atau transformasi. Roma 12:2 merupakan kunci dari transformasi sejati yang harus dialami oleh orang Kristen untuk dapat menjangkau dan mempengaruhi komunitas lingkungan dimana mereka berada. Paulus mengatakan agar orang percaya “jangan serupa dengan dunia” (Roma 12:2), tetapi sebaliknya “menjadi serupa dengan Kristus” (2 Korintus 3:18). Supaya tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus, menjadi garam dan terang dunia, maka kita perlu mengalami transformasi hidup.

APAKAH “TRANSFORMASI HIDUP” ITU?

Yang dimaksud dengan transformasi hidup adalah perubahan, baik yang bersifat radikal (seketika) maupun progresif (bertahap) , yang diperlukan untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Kata “transformasi” berasal dari dua kata dasar yaitu “trans” dan “form”. Trans berarti dari sisi satu kesisi lainnya (across) atau melampaui (beyond). Form disini berarti bentuk. Transformasi berarti perubahan bentuk yang lebih dari atau melampaui perubahan bungkus luar saja. Jadi, pada dasarnya transformasi berarti perubahan bentuk. Dalam Roma 12:2, kata ‘berubahlah’ yang dipakai oleh Paulus adalah kata Yunani ‘metamorphoo’ yang berarti perubahan rupa atau bentuk. 2 Kata Yunani untuk “hidup” adalah “bios” dan “zoe”. Kata bios digunakan untuk menunjukkan bentuk kehidupan yang dimiliki setiap orang, yaitu kehidupan biologi yang dipertahankan dengan makanan, udara, dan air, tetapi pda akhirnya berkahir dengan kematian. Sedangkan kata zoe digunakan untuk menunjukkan kehidupan rohani, yaitu jenis kehidupan yang diberikan Allah dan bersifat kekal ketika seseorang dilahirkan kembali (lahir baru). Kedua jenis hidup ini berbeda satu dengan lainnya. Bios bersifat sementara dan fana, sedangkan zoe bersifat permanen dan kekal. Bios bersifat berpusat pada diri sendiri, sedangkan zoe berpusat pada Allah dan pada orang lain. 3

TIGA TINGKAT DARI PENGALAMAN TRANSFORMASI HIDUP

Intitesis saya tentang transformasi bertitiktolak dari Roma 12:2. Sesungguhnya ayat ini merupakan kunci dari transformasi dan menunjuk 3 (tiga) tingkat transformasi yang perlu dialami umat Tuhan, yaitu position transformation, behavior transformation, dan community transformation. Pertama dan kedua bersifat internal yaitu berada dalam setiap percaya, sedang yang ketiga bersifat eksternal yaitu sebagai akibat dari transformasi internal.

Menikmati Proses

Yakobus 1:2-3 "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." Ayat ini yang menjadi pedoman dan kekuatan saya ketika saya sudah mulai jenuh dan merasa tidak mampu melewati proses yang Tuhan berikan.

Terkadang hidup yang kita jalani ingin semua serba instant. Apapun ingin dilakukan dengan cara yang instant. Seperti halnya Ketika kita sakit kita berdoa dan ingin minta kesembuhan saat itu juga, ketika kita butuh sesuatu kita berdoa dan ingin mendapatkannya dalam sekejap mata, ketika kita memiliki masalah kita berdoa supaya masalahnya cepat selesai tanpa kita berusaha untuk melakukan sesuatu, ketika kita menghadapi ujian sekolah kita berdoa supaya mendapatkan nilai yang bagus tapi kita tidak belajar, dan ketika kita ingin sukses kita berdoa untuk bisa mendapatkan uang tanpa bekerja dengan giat. Apakah itu yang selama ini kita jalani? Tuhan mengingatkan setiap kita bahwa ada proses yang harus kita hadapi untuk bisa melewati itu semua. Apa yang terjadi jika Tuhan mengabulkan semua doa kita tanpa proses dari-NYA? Kita akan menjadi pribadi yang gampangan, pribadi yang ingin enaknya saja tanpa memikirkan apa apa, tidak menghargai apa yang sudah Tuhan berikan.

Seringkali kita menganggap Tuhan itu jahat, mengapa ujian dan masalah tidak ada habis-habisnya untuk saya? Mengapa hal ini harus terjadi kepada saya? Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup, Dia tak pernah tidur dan selalu mendatangkan rancangan yang indah buat setiap kita anak-anakNYA. Proses itu selalu dianggap hal yang tidak enak, hal yang menyiksa daging kita tetapi pada akhirnya proses itu dirancang Tuhan sedemikiran rupa untuk kita melihat kebaikan dan keagunganNYA sungguh ajaib. Proses membawa kita untuk belajar bagaimana menyangkal diri dan memikul salib. Semakin kita terus menikmati proses-proses dari Tuhan, semakin kita mengerti apa maunya Tuhan untuk hidup kita. Apa tujuan Tuhan untuk hidup kita? Ketika kita menikmati proses itu, Tuhan akan membawa kita naik menjadi kepala dan bukan menjadi ekor.
Tujuan Tuhan simple supaya kita memiliki karakter yang ingin terus dibentuk dan level kedewasaan rohani kita semakin naik. Tuhan ingin kita menikmati proses demi proses karena proses menjadikan kita hari demi hari semakin serupa dan segambar dengan Allah dalam hal karakter, sikap dan perbuatan. Tapi terkadang kita tidak mengerti apa maksud Tuhan bawa kita ke dalam pencobaan yang rasanya kita seperti tidak mampu menjalaninya. Tuhan lebih mengetahui kedalaman hati kita dibanding kita sendiri. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap anak-anaknya, Dia tak akan memberikan ujian di luar kemampuan kita. Maka dari itu nikmati setiap proses yang ada. Bersyukur karena Tuhan masih mengijinkan kita untuk menikmati setiap proses sehingga semakin hari karakter kita makin luar biasa. Nikmati proses itu sampai Tuhan berkata kamu sudah berhasil melewatinya dan nantinya kita sudah siap menerima perkara-perkara yang ajaib dan besar yang sudah Tuhan siapkan untuk setiap kita. KEEP FIRE IN GOD!! GOD is very GOOD and GOD loves you ALWAYS. GODBLESS ALL?